DEDY KRISTANTO

Tuesday, April 23, 2019

Merah Hijau Kuning tentang Pemilu di Hong Kong

(daur ulang dari status di FB dan perlu dikomprehensifkan..hehe..)
 
1. Pekerja Migran dan Pemilu di HK
 
Tanggal 14 April 2019, WNI di Hong Kong Macau berkesempatan untuk menggunakan Hak Pilih mereka. Sebagian besar konstituen adalah para PMI atau Pekerja Migran Indonesia. Mereka juga sering dipanggil sbg migrant domestic workers. PMI merupakan salah satu penyokong devisa NKRI. Para perempuan luar biasa ini, kemarin begitu antusias ingin menggunakan hak pilih mereka. Sejak pagi mereka sudah mengular di jalan2 protokol Hong Kong. Hujan tdk menyurutkan semangat mereka utk tetap bertahan. Animo politik PMI yg luar biasa. Mereka sadar bhw pilihan mereka akan menentukan nasib mereka dan bangsa mereka. Pesta demokrasi kita lakukan dgn sabar utk antri. Kita jadi paham bhw di antara para PMI, PEMILU kali ini benar2 telah membuka kesadaran politik mereka. Jangan abaikan hak dan kekuatan PMI. Hidup para pekerja migran Indonesia...🙏🙏🙏

2. Menjadi Petugas KPPSLN
 
Kemarin saya diberi kesempatan untuk mjd "petugas" KPPSLN di Hong Kong.   Proses demokrasi memasuki etape akhir dgn pemungutan suara dan kemudian penghitungan suara. Ribuan WNI menggunakan hak pilih mereka. Sebagian besar dari mereka adalah PMI atau pekerja migran Indonesia. Loket coblosan dibuka jam 9 pagi sampai dengan jam 19. Pencoblos tak henti terus berdatangan. Kita tdk sempat berhenti utk makan. Lapar bisa hilang dgn adrenalin utk melayani para pemilih yg ribuan jumlahnya. Tapi kencing memang susah ditahan. Dalam situasi itu gontok2an yg panas di media sosial tentang dua kubu (kampret vs cebong) sirna. Memang kita kan wajib netral...😁 
 
Kesan lain adalah para pemilih yg ingin mencoblos dgn benar agar suaranya sah. Banyak dari PMI yg belum paham, maka sambil membagikan surat suara mulut tak berhenti ngoceh utk menjelaskan prosedur mencoblos yg benar dan sah. Apalagi lembar surat suara anggota DPR yg buanyyaaaakkkk itu. Biyunng. "Bingung Pak...pokoknya tak coblos!", begitu kata seorang pemilih. Asal dicoblos satu sah. Terserah mana yg mau dicoblos asal di dalam kotak. Hadeeuhhh anggota legislatif kok tdk cukup dikenal ya? Begitu pikirku. Padahal mereka kan mesin partai. Tentu lbh mudah menjelaskan paslon presiden dan wakilnya di tengah keriuhan itu. Lihat wajah dan nomernya terus coblos. Coblos wajahnya saja. Ada mbak2 yg tertawa terpingkal2 saat saya jelaskan utk coblos wajahnya. Pasti sah. Debat tentang ekonomi Indonesia yg salah arah kebijakan ekonominya terus menguap. Saya tdk tahu para perempuan PMI dibilik suara mau nguncek2 wajah siapa di bilik suara saking gemesnya, pokoknya kita sdh jelaskan dgn baik. Tenggorokan sampai kering. Bayangpun jam 9 pagi sampai 7 malam, kita gak berhenti ngoceh. Luuaarrr biasa memang animo politik utk mencoblos kali ini, pasti penghitungan suara akan lebih panas. Tapi syukur di Hong Kong diguyur hujan seharian, bagi mbak2 yg masih teriak2 Jokowi dan atau Prabowo masih adem hatinya. Meski kabarnya masih banyak yg belum bisa nyboblos krn TPS sdh ditutup....bisa2 sampai jam 12 belum selesai. Gemporrrr deh....😁😄 Tapi no problemlah demi demokrasi di NkRI...👍🤘

 
3. Bilik Suara Sebagai Ruang Sakral (Politik)
 
Bilik suara di pemilu kali ini ternyata sebuah ruang sakral. Memasukinya bisa bikin gugup. Kemarin saat saya menjadi petugas KPPSLN Hong Kong banyak kejadian "lucu" di antara pemilih yg sebagian besar adalah perempuan PMI. Ada yg setelah dipanggil, tanpa ambil surat suara langsung mau masuk bilik suara. Saya teriaki, "Wueee Mbak...sing arep dicoblos opo? Kok tidak ambil surat suara?" Maka terpingkalah Si Mbak. Para saksi juga tertawa. Kejadian ini tidak satu dua kali. Namun berkali-kali.

Ada yg setelah dipanggil, ambil surat suara langsung mau dimasukan kotak suara. Untung para saksi itu tahu dan kasih peringatan, "Coblos seekkk mbak!". Tertawalah dia. Ada yg setelah keluar dari bilik suara, bingung cari HKIDnya. Rupanya tertinggal. Ada yg dipanggil berkali2 kok tdk nongol2, ke mana orangnya? Rupanya sudah asyik di bilik suara, tanpa dipanggil, Si Doi langsung minta surat suara. Saya juga tidak sadar juga. Rupanya dia main coblos saja...hehe...petugas yg tukang panggil sampai emosi. Lah suaranya sampai serak2 basah je manggil mbaknya....😁 

Ada yang jujur dgn polos bertanya kalau tidak tahu caranya mencoblos. Bertanya sambil wajah gugup. Ada juga yg memakai pakaian wayang, layaknya Gatotkaca.  Dengan gagah datang mau mencoblos. "Welah mabur dari angkasa mau nyoblos nih Mbak?", tanyaku. Mbaknya dgn mantab menjawab iya mas. Demi pasangan paslon pujaan. Mbaknya langsung mau tampil wayang orang rupanya. Ada yg nyoblos pakai pakaian rumbai putih mau pesta. "Wuaaahh...pesta demokrasi nih mbak? Pakai dandan khusus, " saya iseng bertanya. "Iyo tho Pak, 5 tahun sekali" sambil menyembunyikan kalau gugup. Silahkan nyoblos mbak, tidak usah gugup. Teman2 mahasiswa di Hong Kong yg datang nyoblos utk pertama kalinya, juga tdk bisa menutupi kalau gugup. Tidak tahu gimana cara nyoblosnya. Iya kita terangkanlah supaya bisa nyoblos dgn tenang.

Ada yg terima surat suara terus berjalan muter2 tidak masuk ke bilik suara. Dgn wajah tegang membawa surat suara di tangan. Padahal sudah melihat yg lain habis terima surat suara langsung masuk bilik suara. Benar2 tegang wajahnya. Petugas hrs menunjukkan jalan ke bilik suara. Ada juga yg setelah nyoblos pakunya dibawa keluar. Boleh gugup, tapi pakunya jangan dibawa pulang kelesssss....kan yg lain butuh untuk nyoblos...😁

Tidak sedikit yg gugup saat masuk ke bilik suara dgn membawa dua lembar surat suara. Pemilih luar negeri hanya memilih paslon presiden dan wakilnya serta caleg DPR RI. Coba bayang pun...kalau harus bawa 5 surat suara. Gimana simbah2 yang sudah tua harus memilih di lima lembar surat suara, apa tidak gugup? Pemilu kali ini memang sangat emosional. Kampanye yg bertubi2 menghujani media sosial, rupanya membangkitkan perasaan fanatik emosional tertentu. Menjatuhkan pilihan, terutama kepada paslon presiden dan wakilnya, tidak sekedar nyoblos, tetapi dgn segenap hati dan rasa yg membuncah. Gugup deh jadinya...😄

Sebagai petugas TPS, saya memilih nyoblos terakhir, setelah semua pemilih selesai antrian. Selain karena saya sebagai pemilih DPK (harus memilih terakhir), tetapi sebenarnya malu kalau ketahuan gugup juga masuk ke bilik suara.....😂😂😂😂

Bilik suara sudah menjadi ruang sakral (politik)....waduhhhh...

4. Catatan Untuk Pengurus Partai
 
Bagi teman2 para pengurus partai dan juga calon legislatif, selain berkoar2 soal janji, mungkin akan lebih baik juga mendidik konstituen Anda dgn memberikan penjelasan yg baik tentang cara mencoblos dan syarat2nya. KPU sdh memberikan banyak informasi terkait hal2 praktis tentang pemilih (hak dan prosedur) nya utk memilih. Kalau ada pendukung yg sdh demen dgn partai Anda dan Anda sbg calon legislatif, tapi salah coblos di bilik suara.... ya..sia2lah kampanye Anda. Kehilangan satu suara kan lumayan...😁😁😁

 
5. Mental Bipolar dan Hasil PEMILU
 
Beberapa minggu sebelum pemilu 17 April 2019, saya meneruskan ulasan kesehatan tentang penyakit bipolar. Dua gelala bipolar akut adalah halusinasi dan delusi. Sungguh saya sangat khawatir dan berempati bhw gejala ini akan menyerang 45 persen lebih dari para pemilih yg sdh menentukan hak pilihnya. Coba bayangkan dari 190 juta pemilih, 45 persen akan terserang bipolar jika produksi "klaim" kemenangan itu terus dilakukan lewat media sosial. Emangnya yg 54 persen bisa hidup santai dan tenang berdampingan dgn mereka yg terkena bipolar? Tidak mudah tentunya. Pertanyaannya, bagaimana kita harus kendalikan agar bipolar masif ini tdk terjadi? 
 
Dalam bimbingan konseling, kita sering diajari bhw menghadapi mereka yg terkena gejala mental bipolar, para pembimbing harus lebih banyak mendengar, tenang, berempati tetapi tdk larut secara emosional, sabar, memberikan rasa nyaman, dan tentu tetap respek kepada "klien", karena apa pun situasinya "klien" adalah manusia. Harapannya, 54 persen pemilih bisa tetap respek kpd yg 45 persen dan tidak menertawakan gejala mental bipolar itu, karena bisa menambah buruk situasi "klien" agar "klien" bisa kembali sadar dan merasakan kembali fungsi dari akal dan nalarnya utk menyadari situasi diri mereka yg sesungguhnya sebagai manusia.

Catatan kecil di Good Friday.
Sheung Wan, 19 April 2019





at April 23, 2019
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

No comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)

MAY DAY 2019: KAMI PEKERJA, KAMI BUKAN BUDAK!!!

(feature ini sudah dimuat d Koran Suara Hong Kong 7/5/2019) Lima perempuan mengenakan pakaian hitam dan matanya ditutup dengan kain ka...

  • Awas Para Mucikari Politik Gentayangan!!!
    Awas Para Mucikari Politik Gentayangan!!! Apa boleh dikata, bahwa demokrasi tidak bisa mengelak dari para mucikari politik. Dan hasi...
  • PSI DI MATAKU
    PSI adalah partai baru. Partai anak muda yang cukup berani untuk bersuara berbeda. Grace Natalie dan Tsamara Amany menjadi "icon...
  • IDENTITAS MELAYU DAN TRAUMA PASKA KOLONIAL
    Kalau iklan tari pendet tidak muncul dalam iklan promosi budaya Malaysia, apakah bangsa Indonesia benar-benar sadar te...

Blog Archive

  • May 2019 (1)
  • April 2019 (5)
  • March 2019 (3)
  • January 2019 (15)

Search This Blog

  • Home

About Me

My photo
Dedy Kristanto
humanitarianism and sustainability
View my complete profile

Report Abuse

Picture Window theme. Theme images by duncan1890. Powered by Blogger.