DEDY KRISTANTO

Monday, March 11, 2019

Pramuka (terkenal) di Tahun 1998

Pramuka (terkenal) di Tahun 1998


".....lebih baik diganti Pramuka". Kalimat terakhir itu sebuah renovasi total syair lagu "Mars ABRI". Lagunya diawali dengan "Angkatan bersenjata Republik Indonesia......(dst)" dan bait syair dari Mars ABRI itu ada yang berbunyi demikian "....mempertahankan Republik Indonesia." Nah, pada bait itu kemudian diganti menjadi "....lebih baik diganti Pramuka." Sungguh yang menggubah syair Mars ABRI ini orang yang sangat kreatif dan luar biasa. (Semoga orang ini diberikan kelimpahan kesejahteraan...)

Mars ABRI ini berubah total di jalanan saat marak aksi demo mahasiswa 1998. Saya paling bersemangat saat menyanyikan lagu "Mars ABRI" yang kemudian menjadi salah satu "Mars Mahasiswa" yang demo di jalanan, lapangan kampus dan juga di Gedung MPR. Tidak saja menggugah semangat di tengah terik panas jalanan Ibu Kota, tetapi rasanya memang pas dengan tuntutan mahasiswa waktu itu yakni agar Dwi Fungsi ABRI dicabut.

Mars ABRI ini memang sangat gagah dan menggugah rasa nasionalisme. Anak-anak yang tumbuh di waktu ORBA, pasti akan sering mendengar Mars ABRI. Termasuk saya waktu itu sering mendengarnya di TV dan radio. Tentu di sekolah saat peringatan hari-hari nasional dan hari ABRI. Kebetulan waktu saya SD, saya sekolah di yayasan milik polisi (Kemala Bhayangkara). Mars ABRI selalu dinyanyikan dan membuat hapal di luar kepala saat upacara peringatan hari nasional. Betapa tidak bangganya rakyat memiliki  ABRI sebagai lembaga pembela negara dan penjaga RI. Tetapi semakin lama orang tahu bagaimana perilaku dan tindakan para tentara waktu itu. Saya pun juga demikian, semakin banyak tahu dan (diajari untuk berpikir kritis), menjadi semakin tidak yakin, apakah memang ABRI membela negaranya sendiri. Karena yang terasa adalah banyak kasus di RI yang dilakukan ABRI justru menjadi sangat menakutkan. Jika teman-teman pernah berdekatan dengan kelompok-kelompok marginal dan kemudian ikut mengorganisir mereka, di zaman ORBA, pasti akan bertemu dengan bapak tentara. Mulai dari sekedar dikasih nasehat sampai dengan ancaman serius terhadap diri anda.

Sosok bapak tentara menjadi "momok" yang menakutkan di siang hari dan terlebih di malam hari. Baju hijau tidak lagi membuat mata sejuk tetapi membuat hati bergetar (antara takut dan nyali berani berbaur jadi satu). Tidak ada yang lebih menakutkan bertemu ABRI daripada sundel bolong. Pengalaman itu menjadi demikian meluas dan memiliki daya kejut kuwat bagi para kelompok-kelompok perlawawan untuk memposisikan ABRI sebagai salah satu musuh bersama. ABRI akhirnya menjadi alat rezim untuk menakut-nakuti rakyat. Lah terus gimana mereka mau menjaga RI, kalau rakyatnya sendiri malah menjadi musuh? Itu pikiran kami dulu yang bergerak di jalanan. Maka saat, maraknya gerakan massa untuk melawan ORBA di jalanan yang dimotori oleh mahasiswa, banyak berbagai lagu digubah sebagai protes. Salah satunya Mars ABRI tersebut. Jadi konteks gubahan lagu itu memang tuntutan mahasiswa agar ABRI kembali pada tempatnya, yakni menjadi pelindung dan penjaga RI. Bukan menjadi lembaga yang menakutkan bagi rakyat.

Kalau lagu itu sampai direnovasi total syairnya, hampir terbalik dari syair aslinya, kita semua bisa bertanya, betapa "kejengkelan dan kemarahan" rakyat bisa terungkap dalam renovasi total dari syair lagu itu. Mars ABRI yang dirubah syairnya menjadi protes paling keras terhadap peran ABRI selama rezim ORBA berkuasa. Tidak hanya itu, kita berpikir bahwa tuntutan untuk mengembalikan fungsi ABRI pada profesinya yang sesungguhnya justru akan menjadikan ABRI dimampukan untuk mewujudkan Mars ABRI yang benar.

Reformasi berjalan, POLRI dipisahkan dari ABRI. ABRI kemudian menjadi TNI. Meskipun berjalan tidak mulus, karena secara internal ABRI sendiri terjadi friksi-friksi rumit yang pasti tidak mudah untuk mereka, akhirnya toh berhasil menempatkan posisi dan fungsinya pada masa reformasi. Teriakan mahasiswa agar tentara kembali ke barak dan tidak ambil peran dalam politik praktis pun didengar. Kalau mau berpolitik ya harus keluar atau pensiun dulu, misalnya seperti AHY, karena "nyalon" gubernur DKI. AHY harus keluar dari TNI. Hal itu sudah menjadi tanda bahwa ABRI memang sudah akan menjadi TNI. Tentu saja, perubahan ini harus tetap dijaga, karena kecenderungan lembaga negara yang memegang senjata, dia akan selalu punya peluang untuk menggunakan kewenangannya untuk berkuasa mutlak.

Jika, hasrat untuk menjadi penguasa mutlak dan kembali menakutkan rakyat, maka seruan reformasi itu harus diingat bahwa  ABRI "....lebih baik diganti pramuka." Pramuka lebih adem dan suka menolong (rakyat). Itulah yang membuat Pramuka begitu terkenal di tahun 1998....😀😀😀





at March 11, 2019
Email ThisBlogThis!Share to XShare to FacebookShare to Pinterest

No comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home
Subscribe to: Post Comments (Atom)

MAY DAY 2019: KAMI PEKERJA, KAMI BUKAN BUDAK!!!

(feature ini sudah dimuat d Koran Suara Hong Kong 7/5/2019) Lima perempuan mengenakan pakaian hitam dan matanya ditutup dengan kain ka...

  • Awas Para Mucikari Politik Gentayangan!!!
    Awas Para Mucikari Politik Gentayangan!!! Apa boleh dikata, bahwa demokrasi tidak bisa mengelak dari para mucikari politik. Dan hasi...
  • PSI DI MATAKU
    PSI adalah partai baru. Partai anak muda yang cukup berani untuk bersuara berbeda. Grace Natalie dan Tsamara Amany menjadi "icon...
  • IDENTITAS MELAYU DAN TRAUMA PASKA KOLONIAL
    Kalau iklan tari pendet tidak muncul dalam iklan promosi budaya Malaysia, apakah bangsa Indonesia benar-benar sadar te...

Blog Archive

  • May 2019 (1)
  • April 2019 (5)
  • March 2019 (3)
  • January 2019 (15)

Search This Blog

  • Home

About Me

My photo
Dedy Kristanto
humanitarianism and sustainability
View my complete profile

Report Abuse

Picture Window theme. Theme images by duncan1890. Powered by Blogger.